Dibawah air hujan Faris terdiam,air matanya
jatuh mengingat masa lalu itu. masa lalu yang indah dengan sahabat masa kecil
.Echy namanya. Senyumnya manis, semanis namanya. Dialah sahabat yang selalu ada
untuknya. Sudah lama mereka mengenali antara satu sama lain. Suka dan duka
mereka jalani bersama. Tetapi semua itu hanya tinggal kenangan. Faris
kehilangan sahabat yang tidak ada gantinya. Peristiwa itu sudah lama terjadi.
Sewaktu itu mereka berada di sekolah. Faris sedang memarahi Echy sambil
memukul-mukul meja dengan kuat, karena mengambil pena kesukaannya tanpa izinnya
lalu meghilangkannya. Apabila Faris bertanya, Echy hanya bilang dia akan
menggantikannya. Faris tidak ingin Echy menggantikan penanya. Karena pena itu
adalah hadiah dari Echy sewaktu ulang tahun Faris. Echy tau itu adalah hadiah
ulang tahun yang tidak pantas untuk Faris,tetapi ia hanya bisa memberikan Pena
itu .“aku tidak mau kamu menggantikan pena itu! Pena itu sangat berharga
bagiku!” Faris memarahi Echy. Meja kelas pun dipukul dengan kuat. Echy dengan
keadaan menangis dan sedih hanya berdiam diri. Faris tau kalau Echy pasti
sedih. Faris tidak berniat menyakiti hatinya tetapi waktu dia terlalu marah dan
tanpa ia sadari, mutiara jernih membasahi pipinya. “sudah beberapa hari ia
tidak bertemu dengan Echy!”.Ia khawatir dengan keadaan Echy saat ini!”. “ aku
ingin melihatnya, Tuhan” bisik Faris kepada hatinya. Tiba tiba setelah pulang
sekolah, Faris mendapat kabar dari mamanya kalau Echy masuk rumah sakit karena
kecelakaan. “Ya Tuhan, cobaan apa yang kau berikan pada sahabatku, Tuhan,
tenangkanlah hati ini dan selamatkanlah sahabatku“ bisiknya dalam hati. Faris
cepat pergi ke rumah sakit tempat Echy dirawat. Setibanya disana, ruangan
tempat Echy dirawat dipenuhi dengan sanak saudara. Faris terus berlari menuju
Bunda Echy dan bersalaman dengan ibunya seraya bertanya apakah yang terjadi
dengan Echy, Tante ?” dengan nada sedih memberitahu Faris bahwa “Echy tertabrak
oleh mobil saat ingin menyebrang ke sekolahnya. Dia memang tidak sehat tapi dia
tetap ingin ke sekolah, ingin berjumpa dengan kamu. Tapi keinginannya tidak
sampai. Sapai saat dia menghembuskan nafasnya yang terakhir dan menulis surat
ini untukmu” kata Bunda Echy sambil memberikan surat yang ingin diberikan
kepada Faris. Di dalam surat itu terdapat juga ada pena kesayanganku. Ini isi
suratnya : “Faris, aku minta maaf karena membuatmu marah karena menghilangkan
penamu. Setelah engkau memarahiku, aku mencari pena itu. Tapi aku tak putus
asa. Di rumah, aku tidak menemukannya. Aku terus mengingatnya dan aku teringat,
penamu ada di meja mu. Pena itu aku temukan di kolong mejamu. Terima kasih kamu
sudah mau menjaga pena dariku dan persahabatan yang terjalin selama ini.
Terimakasih sekali lagi” Echy Tanpa disadari Faris menangis.Ia menyesal telah memarahi
Echy sampai Echy sedih dan menangis, ia ingin meminta maaf pada Echy. Lalu ia
tersadar itu hanyalah masa lalunya. Dia berjanji peristiwa itu takkan terulang
kembali. Semenjak itu Faris lebih sering beribadah dan mendoakan Echy. Hanya
dengan inilah Faris bisa membalas jasanya Echy dan mengeratkan persahabatannya